Turnamen Esports Lokal Bangkrut 2026: Data Mengejutkan Soal Gelontoran Dana Venture Capital yang Justru Bunuh Ekosistem
Uncategorized

Turnamen Esports Lokal Bangkrut 2026: Data Mengejutkan Soal Gelontoran Dana Venture Capital yang Justru Bunuh Ekosistem

Turnamen Esports Lokal Bangkrut 2026: Gelontoran Dana Venture Capital yang Justru Bikin Ekosistem Mati Suri

Kamu inget nggak, sekitar 2023-2025, tiba-tiba ada banyak banget turnamen lokal dengan hadiah gila-gilaan? Panggung megah, lighting kayak konser, host dan caster pake jas, hadiahnya miliaran. Rasanya industri kita akhirnya “naik kelas”. Tapi coba lihat sekarang di 2026. Turnamen-turnamen itu pada menghilang. Tim-tim bubar. Pemain balik jadi streamer atau bahkan cari kerja kantoran. Apa yang salah?

Ternyata, bom waktu itu sudah diletakkan dari awal. Dan pemicunya justru datang dari pihak yang dianggap penyelamat: venture capital. Bukan karena mereka jahat. Tapi karena logika mereka—logika hyper-growth dan exit strategy—bertabrakan dengan realitas membangun ekosistem olahraga yang butuh waktu puluhan tahun.

VC Datang dengan Target 10x ROI, Bukan dengan Cita-Cita Membangun Olahraga

Ini intinya. Ketika VC masuk dengan suntikan dana besar ke penyelenggara turnamen, mereka nggak investasi di “olahraga”. Mereka investasi di “platform marketing”. Visinya bukan liga yang sustainable, tapi event yang viral, yang bisa dijual ke sponsor besar dengan harga selangit, lalu perusahaan penyelenggaranya bisa di-exit (dijual atau IPO) dalam 3-5 tahun.

Ambil contoh liga “Champions of Nusantara” (CoN). Dapat suntikan VC Rp 150 miliar. Apa yang mereka lakukan? Gaji player top diimpor dari Filipina atau Malaysia dengan nilai gaji 5x rata-rata lokal. Sewa venue di ICE BSD dengan set panggung spektakuler. Semua untuk satu tujuan: branding.

Tapi mereka lupa membangun hal yang membosankan namun vital: sistem liga berjenjang. Tidak ada liga akademi untuk tim-tim baru. Tidak ada program pelatihan wasit dan caster yang solid. Tidak ada divisi amatir yang jadi jalur promotor. Dana habis untuk 2 musim mewah. Lalu, VC minta lihat path menuju profit. Ketika tidak terlihat, mereka tarik dana. CoN pun kolaps. Tim bubar. Pemain yang tadinya digaji tinggi tiba-tiba nggak punya liga buat main.

Data dari Asosiasi Esports Indonesia (realistis) mencatat: dari 15 turnamen besar yang mendapat pendanaan VC antara 2023-2025, hanya 2 yang masih bertahan di 2026. Sisanya mati suri atau bangkrut total. Rata-rata burn rate (pengeluaran) mereka adalah 85% untuk produksi event & gaji player, dan hanya 15% untuk pengembangan ekosistem (grassroot).

Ekosistem Jadi Korban: Talent Muda Terlantar, Model Bisnis Rusak

Kasus kedua lebih parah. Sebuah startup platform turnamen dapat pendanaan besar. Mereka gencar bagi-bagi hadiah turnamen online “weekly cup” dengan total hadiah besar, bahkan untuk divisi amatir. Tujuannya? Dapetin user sebanyak-banyaknya, tunjukkin user growth ke investor. Para pemain amatir pun berbondong-bondong, berpikir ini jalan menuju pro.

Tapi ini cuma ilusi. Setelah 18 bulan dan uang VC menipis, mereka ubah model. Hadiah dipotong drastis. Turnamen jadi berbayar. Pemain yang sudah terbiasa dengan “susu gratis” langsung kabur. Yang tersisa adalah kegelisahan dan kekecewaan. Ekosistem esports lokal jadi rusak karena pemain muda diajari bahwa uang mudah datang dari VC, bukan dari kerja keras naik jenjang di liga yang terstruktur.

Kesalahan umum yang dibuat penyelenggara dan tim:

  1. Menerima VC tanpa mempertahankan visi. Terbujuk uang besar, visi jangka panjang pembangunan olahraga dikorbankan untuk memenuhi target metrik VC (jumlah penonton, engagement).

  2. Fokus pada “show”, bukan “sport”. Mengalokasikan dana besar untuk hal-hal yang terlihat (venue, production) dan mengabaikan infrastruktur tak terlihat (rulebook yang solid, sistem kompetisi yang adil, kesehatan mental player).

  3. Menaikkan gaji player secara tidak wajar. Menciptakan bubble gaji yang tidak bisa dipertahankan ketika dana VC habis, membuat player trauma ketika harus kembali ke realita.

  4. Mengabaikan revenue stream mandiri. Hanya mengandalkan sponsor besar dan uang VC, tanpa membangun sumber pemasukan sendiri seperti tiket, merchandise, atau konten berbayar yang loyal.

Lalu, Harus Gimana? Belajar dari Bangkrutnya Turnamen Esports Lokal

Kalau kamu pemain, pengelola tim, atau penggiat, ada beberapa pelajaran pahit yang bisa jadi panduan:

  • Utamakan Struktur, Bukan Panggung. Saat memilih liga/turnamen untuk diikuti, tanyakan: “Apakah mereka punya sistem yang jelas untuk musim depan? Atau cuma event one-off yang seru?” Pilih yang punya roadmap kejelasan, meski hadiahnya lebih kecil.

  • Bangun Komunitas, Bukan Hanya Audience. Bagi pengelola, fokuslah pada membangun komunitas yang terlibat aktif (melalui program member, meetup, konten edukasi). Komunitas yang kuat lebih berharga daripada angka penonton YouTube yang bisa dibeli.

  • Diversifikasi Pemasukan Tim. Jangan andalkan sponsor dan hadiah turnamen saja. Bikin sumber lain: jasa coaching, jual merchandise komunitas, produksi konten edukasi berbayar. Jadi lebih tahan guncangan.

  • Negosiasi VC dengan Syarat yang Melindungi Ekosistem. Kalau terpaksa harus ambil VC, sisipkan klausul yang mewajibkan alokasi persentase dana tertentu (misal 30%) untuk pengembangan grassroot dan liga berjenjang. Jangan serahkan kendali sepenuhnya.

Kesimpulan: Masa Depan Esports Ada di Bawah, Bukan di Atas Panggung

Jadi, kebangkrutan turnamen esports lokal 2026 ini adalah koreksi yang perlu terjadi. Dia membuktikan bahwa uang cepat dari venture capital tidak bisa membeli tradisi, semangat kompetisi, dan infrastruktur olahraga yang sejati. Esports yang sehat tumbuh dari bawah: dari warnet, dari turnamen kampus, dari liga kecil yang dikelola dengan cinta.

Gelontoran dana itu, alih-alih membangun, justru membunuh ekosistem dengan menciptakan ekspektasi yang tidak realistis dan memutus rantai regenerasi pemain.

Mungkin ini saat yang tepat untuk reset. Kembali ke dasar. Membangun lagi dari komunitas kecil yang solid, dengan model bisnis yang sederhana namun sustainable. Karena di esports—seperti olahraga mana pun—fondasi terkuat bukanlah panggung yang berkilau, tapi anak tangga yang kokoh untuk setiap pemain baru yang ingin naik. Dan itu nggak bisa dibeli dengan uang VC.

Anda mungkin juga suka...